Mohsein Saleh Badegel
 

Mohsein Saleh Badegel Minta Tunjukan Bukti Asli Transfer Yang Divalidasi, terkait Penyetoran Suriansyah Rp1 M

Mohsein Saleh Badegel 11:30 AM Article
img

PALU - Dirut PT Mutiara Alam Perkasa (MAP) Mineral Logam Biji Besi, H Mohsein Saleh Badegel, kembali angkat bicara, sehubungan persoalan yang terjadi di internal perusahaan yang dipimpinnya. Kepada Radar Sulteng dia menyebutkan bahwa apa yang disebutkan H Abbas Adnan selaku Komisaris Utama Pemilik dan Pendiri PT MAP adalah benar. Kalau selama ini telah banyak berinvestasi untuk H Suriansyah dan berjuang untuk PT MAP adalah Monsein, ketimbang sebaliknya Suriansyah. "Mengenai apa yang diperlihatkan H Suriansyah itu perlu dicek lagi. Seperti bukti bukti adanya transaksi uang ke saya atau apakah ke PT MAP. Liat jumlahnya berapa, serta peruntukannya apa terus untuk kegiatan apa, apakah ada hubungannya dengan PT MAP, berapa dan peruntukan untuk kegiatan apa," ungkapnya kepada Radar Sulteng.

Karena ternyata, sebelum membangun kerjasama dengan PT MAP, mengelola tambang biji besi atau bekerjasama dengan H Abbas Adnan, Mohsein lebih dulu bertemu dan bekerja sama dengan Suriansyah serta beberapa nama lagi, untuk bekerjasama mengelola usaha Galian C, PT Balindo. Kerjasama dengan Suriansyah ini terjadi sejak Januari 2014, dan Mohsein yang memberikan investasi kepada Suriansyah. "Setelah ketemu dan bekerjasama dengan Suriansyah ini. Sesuai bukti RTGS dan transfer di koran kemarin. Tanggal 20 Februari saya mentransfer ke rekening BNI Suriansyah dana Rp 3 M. Itu investasi join kerjasama saya dengan Suriansyah. Sebagian dana itu diperuntukan untuk Galian C, PT Balindo, dan LCT Kapal. Saat berproses pada bulan Februari 2014," beber Mohsein.

Selanjutnya cerita Mohsein, Maret 2014, dia bersama Suriansyah ditawarkan kerjasama oleh Nasar, sebuah perusahaan tambang biji besi PT MAP, yakni milik H Abbas dan keluarga. Tawaran itupun diterima sehingga bertemu dengan H Abbas dan melakukan kesepakatan.Saat sudah sepakat, kemudian terjadilah proses akuisisi saham senilai Suriansyah 45 persen, Mohsein 5 persen, Hidayah 5 persen,Haji Abbas 45 persen yang mana di DP dulu 1 miliar oleh dirinya bersama Suriansyah. "Maka saya dan Suriansyah sepakat agar dana investasi dari saya yang kita gunakan untuk LCT dan galin C. PT Balindo kita alihkan sebagian kepada PT MAP. Senilai Rp 1 M dan saat itu Suriansyah meminta dari saya. Suriansyah mengatakan tanggulangi dulu ya dinda," kata Mohsein mengulangi pernyataan Suriansyah. Dan disaksikan oleh H Abbas,dan semua itu juga diakui H Abbas tentang pernyataan Suriansyah itu.

Kata Mohsein, Suriansyah meminta dari dirinya untuk mentrasfer lebih dulu kepada H Abbas. Bahkan kata Mohsein silahkan tanya dengan Suriansyah, jika betul atau tidak. Karena pada saat itu H Abbas pun dan Nasar sebagai saksi. Sehubungan dengan hal itu, Suriansyah juga bilang nanti kita tinggal hitung hitungan," kata Mohsein lagi.

Sebab itulah, H Abbas tetap bersikukuh tidak pernah menerima sepeserpun dari Suriansyah yang mengakuisisi saham PT MAP 45 persen. Bahkan kata Mohsein memang dana itu dari dirinya yang telah menginvestasi dana sebesar Rp 3 miliar, untuk Galian PT Balindo dan LCT kapal. PT Balindo sekarang sudah pada pembuatan amdal dan sudah terhenti, sementara LCT kapal tidak ada kejelasan. "Investasi saya sebesar Rp 3 M, itu bukti pengirimamnya ke Suriansyah masih ada. Bukti RTGS transfer dari Rekening Mandiri saya ke rekening Suriansyah BNI No 76458236 pada Taggal 20 Februari 2014, dan masih ada lagi bukti transfer yang lain yang peruntukannya untuk hal yang lain yang saya investasikan dengan Suriansyah," terang Mohsein.

Yang lucunya kata Mohsein, dirinya yang memberikan investasi, untuk Suriansyah, malah disebut anak buah. "Jadi biarkanlah yang menilai ada masyarakat. Bukannya saya takut dengan Suriansyah. Saya berusaha memberi Suriansyah muka,dan luwang untuk duduk bersama dan menyelesaikan secara kekeluargaan dan profesional bersama pemegang saham yang lain. Tapi dia yang memulai. Dan yang jelas saya bermitra dengan H Abbas dan Suriansyah, bukan orangya Suriansyah seperti yang dituturkan. Termasuk ikut serta berinvestasi sesuai porsi masing-masing. Dan di PT MAP saham saya 10 persen. Dimana saya lakukan penipuan dan pencemaran?. Sebenarnya Suriansyahlah yang lebih dulu melakukan pencemaran nama baik saya, ungkapnya. Olehnya kata Mohsein, biarlah masalah ini selesai diranah hukum, beber dirut PT MAP.

Mohsein tidak memungkiri, bahwa dalam kesepakatan sahamnya hanya sebesar 5 persen, sesuai akta notaris yang diklaim Suriansyah. Namun yang perlu diketahui, bahwa 10 persen itu, karena Hidayah pemilik saham 5 persen, keluar dari PT MAP. Dan antara Hidayah dengan dirinya terjadi kesepakatan, dimana Hidayah menghibahkan sahamnya kepada dirinya. "Sehingga terjadi Akta Hibah saham sebasar 5 persen, dari Ibu Hidayah kepada saya. Sehingga saham saya menjadi 10 persen,dan itu sudah di notraiskan di Menkumham oleh Notaris Charles. Perjanjian Pengalihan Saham dari Ibu Hidayah kepada Mohsein Saleh, secara Hibah No 06 tgl 14 Augusts 2014, Notaris Charles," tegasnya.

Sementara itu, mengenai apa yang ditunjukan Suriansyah dalam pernyataannya itu juga kata Mohsein adalah bukti bukti transaksi, yang hubungannya tidak ada dengan PT MAP. Mulai bukti Rp 300 juta, tanggal 24 Februari 2014 dan Rp 100 Juta pada tanggal 14 juli 2014, adalah untuk operasional di lapangan yang dipotong dari investasi Mohsein sebesar Rp 3 miliar kepada Suriansyah, untuk Galian C PT Balindo. Sampai terbitnya Izin Amdal (UKL-UPL) PT Balindo Galin C, pada Tanggal 06 Agustus 2014. Namun bukan seperti yang dikatakan Suriansyah, untuk Amdal PT MAP. Pasalnya Amdal PT MAP semua terjadi di tahun 2015 dan semua yang membiayai adalah Mohsein. Dari itulah, Mohsein mengimbau, agar mengecek kembali rekapan dana Rp 281,790 juta tanggal 30 april 2014.

Kalau 150 juta yang di transfer ke saya, untuk Jiyo Metrik, yang ditransfer ke saya untuk PT MAP itu benar. Tapi saya anggap itu adalah dari investasi yang Rp 3 miliar, dan pada saat itu PT MAP sudah memiliki amdal yang terbit tahun 2012, belum penyesuaian sesuai UUD yang baru. Jadi siapa yang bilang kalau PT MAP belum punya amdal pada saat itu. Sementara sisa rekapnya adalah peruntukan untuk operasional dan socialisasi PT Balindo Galian C, yang terletak di Desa Loli, yang sampai sekarang belum ada penyelesaian dari Suriansyah, sesuai komitmen awal diselesaikan sampai IUP produksi. Sampai sekarang masih tertunda hanya sampai Izin AMDAL (UKL-UPL) yang sempat diurus perizinannya oleh Nasar," kata Mohsein.

Mohsein juga meminta untuk diklarifikasi kembali, atau membaca kembali rekap yang dijadikan sendiri bukti oleh Suriansyah. Di situ jelas kata Mohsein peruntukannya untuk tambang di Loli, yang dianggapnya telah gagal. Karena Suriansyah tidak menyelesaikan kewajibannya sebagai Pemegang Saham PT Balindo pada tahun itu. Ini bapak Nasar tahu semua, dan Bapak Made pemilik Balindo. Dan untuk izin amdal (UKL-UPL) PT balindo, terbit tanggal 6 Agustus 2014. Total bukti yang diuraikan oleh Suriansyah,adalah Rp 681,790,000 yang di keluarkan Suriansyah kepada saya Rp 550 juta,beber Mohsein.

Untuk Rp 433.750.000 Juta, sebagaimana yang disebutkan Suriansyah, Mohsein termasuk H Abbas sendiri tidak pernah merasa bahwa ada yang dikirim ke PT MAP sebesar itu. Sehingga bukti bukti yang diperlihat Suriansyah bagi mereka tidak ada hubunganya dengan PT MAP. Kalau memang ada bukti transfernya, silahkan ditunjukan, pasti saya akan pertanggung jawabkan. Karena tidak jelas buktinya, untuk apa, sebutnya lagi.

Yang lebih menjadikan tanda tanya bagi Mohsein,dengan bukti bukti yang ditunjukan oleh Suriansyah adalah membayar ke PT MAP, adalah adanya bukti pembayaran tertanggal 10 Juli 2013. Karena kesepakatan PT MAP terjadi di April 2014. Begitu juga RTGS RP 100 juta yang di transfer ke rekening Ibu Yeyen pada 10 July 2013, ini juga jelas sudah berbeda kejadiannya dengan kesepakatan dimana Suriasyah sesuai perjanjian bersama.

Dan perlu Suriansyah ingat, bukankah RTGS 100 juta tanggal 10 July 2013 itu, untuk pembayaran mobil mercy warna putih 2 pintu yang dikredit oleh Suriansyah. Pakai nama ibu Yeyen (Istri). Karna namanya sudah tidak bisa digunakan untuk mendapatkan kredit di Bank. Maka dia minta tolong untuk dijamin pakai nama ibu Yeyen dan itu adalah pembayaran atas utang Suriansyah kepada ibu Yeyen. Dan kredit mercy pakai nama ibu Yeyen, sampai sekarang ini BPKB nya ditahan oleh BCA Finance, karena tunggakanya senilai, Rp30 juta belum ditebus oleh Suriansyah, namun mobilnya sudah dibawa ke Samarinda. Hanya saja BPKB nya yang masih sangkutan, kata Mohsein sembari tersenyum.

Dan ada maksud apa Suriansyah membawa bawa nama Istri saya. Semestinya Suriansyah yang harus berterima kasih, ke istri saya. Istri saya tidak ada sangkut paudnya dengan PT MAP. Saya tidak terima hal ini, dan saya akan laporkan balik. Ini pencemaran nama istri saya dan Surinasyah sudah melanggar etika sambungnya dengan nada tegas.

Dan mengenai kredit di BCA yang menjadi kewajiban Suriansyah, kata Mohsein, bisa dichek ke Mercyindo dan BCA Finance. Karena mengenai itu semua Mohsein mengaku memiliki bukti bukti setoran setiap bulanya. Bahkan hampir 27 juta untuk di debit oleh BCA Finance per bulanya. Lebih jauh kata Mohsein sangat menyayangkan sikap Suriansyah, karena inti permasalahan ini adalah mengenai utang pembelian saham yang sampai saat ini tidak pernah direalisasikan dan diterima oleh H Abbas. Dan kalau mengenai RTGS yang tunjukannya ada penyetoran ke PT MAP, sebesar Rp 1 M, Mohsein meminta untuk ditunjukan dan diperlihatkan bukti transfer yang asli ke PT MAP. Saya imbau kepada Suriansyah. Tolong dibuktikan penyetoran Rp 1 M kepada PT MAP. Tolong tunjukan bukti yang asli transfernnya, bukan yang foto copy tapi yang ada validasi atau ketikan aplikasi komputer bank, dan tanggalnya, biar semua jelas dimata masyarakat. Karena ini sudah terlanjur sampai ke publik. Agar semua enak," tandas Mohsein.

Sementara, H Abbas Adnan Komisaris Utama, pendiri dan pemilik PT Map juga membenarkan kalau saat kesepakatan terjadi dan ada penyetoran itu karena Mohsein. Dari itulah dia tetap berdalih bahwa Suriansyah sepeserpun tidak pernah membayar utang atas pembelian saham. "Bahkan saat itu saya masih ingat kalau Suriansyah meminta kepada Mohsein untuk menanggulanginya. Ini yang dia ucapkan "Tanggulangi dulu ya dinda"," kata Abbas meniru kembali apa yang disampaikan Suriansyah. Dari itu Abbas menyebutkan bahwa 45 persen saham yang disepakati Suriansyah, belum ada yang dibayarkan kepadanya. (cdy).

Recent Post